Archive for June, 2005

Toko Kebahagiaan

Wednesday, June 29th, 2005

Seorang muda yang selalu resah dan gelisah menemui seorang bijak dan
bertanya, ”Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh
kebahagiaan?”
Orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab, ”Kira-kira
sepuluh tahun.”

Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut, ”Begitu lama,?” tanyanya tak
percaya.
”Tidak,” kata si orang bijak, ”Saya keliru. Engkau membutuhkan 20
tahun.”
Anak muda itu bertambah bingung. ”Mengapa Guru lipatkan dua,?” tanyanya
keheranan.
Orang bijak kemudian berkata, ”Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau
membutuhkan 30 tahun.”

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca cerita di atas?
Tahukah Anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya, semakin lama
pula waktu yang diperlukannya untuk mencapai kebahagiaan?

Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?
Sebagaimana yang telah banyak disampaikan, kebahagiaan hanya akan dicapai
kalau kita mau melakukan pencarian ke dalam.
Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma-cuma. Anda harus mau
membayar harganya.

Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah
”Toko Kebahagiaan.”
Di sana tidak ada barang yang bernama ”kebahagiaan” karena ”kebahagiaan”
itu sendiri tidak dijual. Namun, toko ini menjual
semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain:
kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, kepasrahan, dan
rela memaafkan.
Inilah ”barang-barang” yang Anda perlukan untuk mencapai kebahagiaan.

Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi.
Yang dijual di sini adalah benih. Jadi, kalau Anda tertarik untuk membeli
”kesabaran” Anda hanya akan mendapatkan ”benih kesabaran.” Karena itu,
segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus berusaha keras untuk
menumbuhkan benih tersebut sampai ia menghasilkan buah kesabaran.

Setiap benih yang Anda beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan
yang harus Anda pecahkan. Hanya bila Anda mampu memecahkan persoalan
tersebut, Anda akan menuai buahnya. Benih yang dijual di toko itu juga
bermacam-macam tingkatannya.  ”kesabaran tingkat 1,”misalnya, berarti
menghadapi kemacetan lalu lintas, atau pengemudi bus yang ugal-ugalan.
”Kesabaran tingkat 2” berarti menghadapi atasan yang sewenang-wenang, atau
kawan yang suka memfitnah.
”Kesabaran tingkat 3”, misalnya, adalah menghadapi anak Anda yang terkena
autisme.

Menu yang lain misalnya ”bersyukur.”
”Bersyukur tingkat 1” adalah bersyukur di kala senang, sementara
”bersyukur tingkat 2” adalah bersyukur di kala susah.

”Kejujuran tingkat 1,” misalnya, kejujuran dalam kondisi biasa, sementara
”kejujuran tingkat 2” adalah kejujuran dalam kondisi terancam.

Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di ”Toko Kebahagiaan”.

Setiap produk yang dijual di toko tersebut berbeda-beda harganya sesuai
dengan kualitas karakter yang ditimbulkannya. Yang termahal ternyata adalah
”kesabaran” karena kesabaran ini merupakan bahan baku dari segala macam
produk yang dijual di sana.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ”Apa yang kita peroleh
dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai.
Hanya harga yang mahallah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu
bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.”

Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda.
Kita akan bersahabat dengan masalah. Kita pun akan menyambut setiap masalah
yang ada dengan penuh kegembiraan karena dalam setiap masalah senantiasa
terkandung ”obat dan vitamin” yang sangat kita butuhkan.

Dengan demikian Anda akan ”berterima kasih” kepada orang-orang yang telah
menyusahkan Anda karena mereka memang ”diutus” un! tuk membantu Anda.
Pengemudi yang ugal-ugalan, tetangga yang jahat, atasan yang sewenang-wenang
adalah peluang untuk membentuk kesabaran. Penghasilan yang pas-pasan adalah
peluang untuk menumbuhkan rasa syukur. Suasana yang ribut dan gaduh adalah
peluang untuk menumbuhkan konsentrasi. Orang-orang yang tak tahu berterima
kasih adalah peluang untuk menumbuhkan perasaan kasih tanpa syarat.
Orang-orang yang menyakiti Anda adalah peluang untuk menumbuhkan kualitas
rela memaafkan.

Sebagai penutup marilah kita renungkan ungkapan berikut ini:
”Aku memohon kekuatan, dan Tuhan memberiku kesulitan-kesulitan untuk
membuatku kuat.
Aku memohon kebijaksanaan, dan Tuhan memberiku masalah untuk diselesaikan.
Aku memohon kemakmuran, dan Tuhan memberiku tubuh dan otak untuk bekerja.
Aku memohon keberanian, dan Tuhan memberiku berbagai bahaya untuk aku atasi.
Aku memohon cinta, dan Tuhan memberiku orang-orang yang bermasalah untuk aku
tolong.
Aku mohon berkah dan Tuhan memberiku berbagai kesempatan.
Aku tidak memperoleh apapun yang aku inginkan, tetapi aku mendapatkan apapun
yang aku butuhkan.”

kekuatan pikiran atau sekedar menghayal?? (minjem dari nungki)

Monday, June 27th, 2005

Mana yang lebih baik;
Merasakan sesuatu yang tak ada
Atau tidak merasakan apa yang ada?

Kadang kita terlalu mengkhayalkan sesuatu begitu kuatnya untuk
menjadi nyata
Sampai-sampai kita menganggapnya ada dan nyata..

A permanent illusion.

Kadang kita terlalu sibuk membangun potongan – potongan khayalan yang
kita susun sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah bentuk yang kita
inginkan secara nyata..

Kadang kita terlalu keras mendorong diri sendiri hingga batas
pertahanan sampai di titik kritis..

Sampai tanpa kita sadari bahwa kita sudah terlalu jauh..

Mengejar apa yang pada akhirnya kita sadari

Bahwa itu bukan untuk kita
Bahwa itu tidak pernah untuk kita
Dan tidak akan pernah menjadi milik kita..
Dan saat itu terjadi, kita hanya bisa terpaku… di titik kritis yang
kita ciptakan sendiri..

Tapi apakah salah untuk mengkhayalkan sesuatu sebegitu kuatnya?
Apakah salah jika lalu kita menganggapnya nyata?

tulisan Karen kingsbury

Thursday, June 23rd, 2005

Seorang Bayi Mungil Hanya Mampu Hidup Selama 6 Jam, Tetapi …

Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang
istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena
menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah
bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga
pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini
kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua
orang ikut bersukacita dengan mereka.

Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter
menemukan bayi kembar dalam perutnya,seorang bayi laki2 dan perempuan.
Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa
hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi
kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi,
demi untuk sang ibu dan bayi laki2nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang
istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak
menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir
terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya,
dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya.

Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan
tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika
sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia
tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal
ini membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima
fakta ini.

Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu
dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah
bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang
sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan
bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu
memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah  peluang yang sangat
langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey
dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka
memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa
mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi
apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk
dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang
istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang
buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi
yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor
organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka
menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak
mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi
kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya
dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami
menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan
tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah
terlupakan dalam hidupnya.

Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan
tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah
melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka
sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka,
mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa
jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan
tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air
mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk
melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga
tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu
bertahan setelah enam jam…..

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ.
Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor
tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.

Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan.
Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil
menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan
mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka
selamanya…

============================================
Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari
ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang
kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang
lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2
penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang
bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai
bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal,
maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal
terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa
anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika
kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.
PERTAMA, cuek / tidak peduli /tidak mengerti kisah ini. KEDUA,
tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun. KETIGA,
tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang
tentang hidupnya. KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara
pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya
sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda,
ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda
telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar “Hidup” menjadi
“Hidup Yang Lebih Bermakna”. Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran
anda di dunia ini.

=============================================
Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri,
Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak
dan bagi Orang2 yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i,  Suami/Istri, Anak2
Anda,dst) =============================================
“Suatu hal terindah dalam hidupku adalah melayaniNya dan mencintaiNya.”

A Story About Life

Wednesday, June 22nd, 2005

This is a story about Life…and windstorms, about
seeds that we plant in the spring and flowers that
bloom in the summer and harvest in the fall and….
 
Death that comes early in life and to some people
late and what it is all about.
 
Imagine the very beginning of Life and God who
created everything–as the sun who shines over the
world and warms us, who makes the flowers grow and

whose rays always cover the earth–even when clouds
make it impossible for us to see them.
 
God always sees us, His Love always shines on us and
it doesn not matter how small or how big we are and
nothing can ever stop that !
 
When people are born, they start as tiny seeds like
the dandelion seeds are blown in the meadow. Some
end up in the gutter, some on a pretty lawn in front
of a fancy mansion, some in a flowerbed—

And so it is with us, we start our life in a rich
home or a poor family or in an orphanage or hungry
or dying as babies or beloved by parents who wanted
us very much or who adopted us and picked us
personally. Some people may call it the Gamble of
Life…but you have to remember that God is also in
charge of the wind and He cares as much about
dandelion seeds as He cares for all living
things–especially children– and there are no
coincidences in Life.
 
He never discrimantes, He loves unconditionally, He
understands, He does not judge–He is all Love. You
and God picked your own parents out of a choice of a
billion ! You chase them so you can help them (and
yourself) to grow and learn and they can be your
teachers too.

Life is like a school where we are given a chance to
learn many things– like to get along with other
people or to understand our feelings; to learn to be
honest with ourselves and others, to learn to give
and receive love– and when we have passed all the
tests–(jus like in school)– we are allowed to
graduate– that means we are all allowed to return
to our Real Home….to God where we all came from
and where we meet all the people we ever loved–like
a family reunion after graduation.
That is the time when we die, when we shed our body,
when we have done our work and are able to move on.
 
In the winter you can not see life  in a tree….but
when spring comes, the small green leaves come
out…one after another…. and in late summer the
tree is full of fruit and has fulfilled its
promise…its mission and purpose. In the fall the
leaves fall off… one by one and the tree “goes to
rest” over winter. Some flowers bloom only for a few
days…everybody admires and loves them as a sign of
spring and Hope. Then they die… but they have done
what they needed to do ! Some flowers bloom for a
very long time…people take them for granted…they
don’t even notice them any more…this is like the
way they treat old people…. they watch them
sitting in a park until they are gone one day
forever.
 
Everything in life is a circle; day follows night,
spring comes after winter.
When  a boat disappears behind the horizon, it is
not “gone” but just out of our sight….
God watches over everything that He created… the
Earth, the Sun, Trees, Flowers and People… who
have to get through the school of Life before they
graduate.

When we have done all the work we were sent to Earth
to do….we are allowed to shed our Body…. which
imprisons our soul like a cocoon encloses the future
Butterfly…. and when the time  is right, we can
let go of it and we will be free of pain, free of
fears and woriies…. free as a very beautiful
butterfly, returning home to God… which is a place
where we are never alone… where we continue to
grow and to sing and dance…. shere we are with
those we loved (who shed their cocoons earlier) and
where we are surrounded with more Love than you can
ever imagine !
 
Written by Elizabeth Kubler Ross to a young boy
named Dougy who had a short live because of his
desease. He was born on February 8, 1968 and passed
away on December 5, 1981.

maaf, mau ke mana?

Tuesday, June 14th, 2005

Duduk di teras belakang rumah, termenung, mengitung jumlah tetes air yang turun dari langit sejak tadi pagi. Pekerjaan yang membosankan kalau tidak sia-sia.
Bertanya, maaf, mau ke mana?
Mau ke mana?
Ya mau ke mana?
Dari teras ini mau ke mana atau MAU KE MANA?
Teras ini nyaman, terlalu nyaman untuk ditinggalkan….
Sama juga dengan SAAT ini, terlalu nyaman untuk ditinggalkan KE MANA-MANA.

yesterday, 16 years ago…

Monday, June 13th, 2005

My son, my Dimitri was born yesterday 16 years ago…gosh..That was a long time.
yesterday on his birthday he showed me his new girl friend…
Oops..A girl friend..That can only mean that my boy, my son is not a little boy anymore.
He is growing up..He is becoming a little man.

16 years ago, I struggled with so much pain (you cannot imagine how painful it was) just to delivered this young man, my little man to this world…all the pain, all the hassle and all the sleepless night caused by back pain paid off…my first baby, my first born, my pride and my joy!!

Happy birthday son, I love you so much!!!